walk to remember | check it, love it, share it :)

Sunday, March 13, 2011

Hidrolisis Garam

Hari / Tanggal : Selasa, 20 Mei 2010

Hidrolisis Garam

Tujuan : Mengamati sifat larutan dari beberapa larutan garam

Alat dan bahan :

1. Pipet tetes

2. Kertas lakmus merah dan lakmus biru

3. Larutan KCl 0,1 M

4. Larutan NH4Cl 0,1 M

5. Larutan CH3COONa 0,1 M

6. Larutan CH3COONH4 0,1 M

7. Larutan Al2(SO4)3 0,1 M

Langkah Kerja :

  1. Masukkan beberapa tetes larutan garam ke dalam pelat tetes
  2. Periksa masing – masing larutan dengan lakmus merah dan lakmus biru
  3. Amati perubahan warna kertas lakmus
  4. Catat hasil pengamatan dari percobaan di atas

Hasil Pengamatan :

Larutan

Perubahan Warna Indikator

pH

Ket.

Lakmus Merah

Lakmus Biru

>7 atau <7 atau ="7

KCl

Merah

Biru

=7

Netral

NH4Cl

Merah

Merah

<7

Asam

CH3COONa

Biru

Biru

>7

Basa

NH4CH3COO

Merah

Biru

=7

Netral

Al2(SO4)3

Merah

Merah

<7

Asam

1

Pertanyaan :

  1. Tuliskan rumus basa atau asam pembentuk garam – garam tersebut, golongkan asam kuat / asam lemah atau basa kuat / basa lemah serta sifat larutan

Garam

Basa Pembentuk

Asam Pembentuk

Sifat Larutan Garam

Rumus

Golongan

Rumus

Golongan

Asam/Basa/Netral

KCl

KOH

B. Kuat

HCl

A. Kuat

Netral

NH4Cl

NH4OH

B. Lemah

HCl

A. Kuat

Asam

CH3COONa

NaOH

B. Kuat

CH3COOH

A. Lemah

Basa

NH4CH3COO

NH4OH

B. Lemah

CH3COOH

A. Lemah

Netral

Al2(SO4)3

AlOH3

B. Lemah

H2SO4

A. Kuat

Asam

Pengembangan Materi :

Garam merupakan senyawa ion, yang terdiri dari kation logam dan anion sisa asam. Kation garam dapat dianggap berasal dari suatu basa, sedangkan anionnya berasal dari suatu asam. Jadi, setiap garam mempunyai komponen basa (kation) dan komponen asam (anion).

Sifat larutan garam bergantung pada kekuatan relative asam – basa penyusunnya.

ü Garam dari asam kuat dan basa kuat bersifat netral

ü Garam dari asam kuat dan basa lemah bersifat asam

ü Garam dari asam lemah dan basa kuat bersifat basa

ü Garam dari asam lemah dan basa lemah bergantung pada harga tetapan ionisasi asam dan ionisasi basanya (Ka dan Kb)

Ka > Kb : bersifat asam

Ka < style=""> : bersifat basa

Ka = Kb : bersifat netral

Sifat larutan garam dapat dijelaskan dengan konsep hidrolisis.

2

Pengembangan Materi :

Larutan penyangga adalah suatu larutan yang dapat mempertahankan

harga pH. Larutan penyangga disebut juga buffer atau dapar.

Larutan penyangga terdiri dari :

a. Penyangga asam Asam lemah + basa konjugasi

Larutan penyangga asam mempertahankan pH pada daerah asam (pH <>

b. Penyangga basa Basa lemah + asam konjugasi

Larutan penyangga basa mempertahnkan pH pada daerah basa (pH > 7 )

Komponen larutan penyangga adalah campuran asam lemah dan basa konjugasinya (garamnya) / basa lemah dan asam konjugasinya (garamnya).

Asam basa konjugasi Bronsted – Lowry merupakan pasangan asam basa yang tidak saling bereaksi. Akan tetapi, pasangan asam basa ini mampu menangkap asam / basa yang ditambahkan ke dalam larutan penyangga sehingga pH larutan tidak berubah selama asam / basa yang ditambahkan jumlahnya sedikit. Sebenarnya, penambahan sedikit asam / basa ke dalam larutan penyangga menimbulkan sedikit perubahan pH, tetapi perubahan pH ini sangat kecil sehingga pH larutan dianggap tidak berubah.

Menghitung pH larutan penyangga :

  1. [ H+ ] = Ka x
  2. [ OH- ] = Kb x

Larutan penyangga berperan dalam penting dalam cairan tubuh dan

dalam berbagai proses yang menunutut trayek / rentang pH yang sempit.

3

Kesimpulan :

Dari prinsip kerja larutan penyangga ini dapat kita simpulkan hal – hal sebagai berikut :

  1. Penambahan sedikit asam / basa / pengenceran terhadap larutan penyangga tidak mengubah ph suatu larutan yang mengandung penyangga tersebut
  2. Kemampuan larutan penyangga dalam mempertahankan pH suatu larutan bergantung pada jumlah mol komponen larutan penyangga tersebut

Ø Larutan penyangga adalah suatu larutan yang dapat mempertahankan

harga pH, atau dengan kata lain larutan penyangga adalah larutan yang pH-nya praktis tidak berubah meskipun ditambah sedikit asam, sedikit basa, atau diencerkan. Larutan penyangga disebut juga buffer atau dapar.

Ø Larutan penyangga adalah larutan yang pH-nya praktis tidak berubah

meskipun ditambah sedikit asam, sedikit basa, atau diencerkan.

Ø Contoh larutan penyangga adalah CH3COOH + NaCH3COO.

Tuesday, March 8, 2011

Heboh Makam Harry Potter di Israel

Nisan bertuliskan 'Harry Potter' di kota terpencil Ramle mampu menyedot wisatawan .

Sebuah makam di Ramle, Israel membuat heboh warga lokal dan turis asing. Sebab, di nisannya bertuliskan: ini adalah makam Harry Potter.

Bukan, itu bukan makam penyihir remaja berkaca mata nan tenar dalam buku karangan JK Rowling. Mendiang Potter adalah seorang tentara Inggris yang tewas pada 1939.

Meski hanya namanya yang mirip, batu nisan itu mampu menggiring begitu banyak turis ke kota terpencil, Ramle. Meski berapa jumlah wisatawan yang berkunjung tidak terdata, namun sejumlah pemandu lokal dan pemerintah setempat mengatakan, makam ini membuat orang berduyun-duyun ke pemakaman militer. Sebagian besar wisatawan domestik.

"Ini tak ada hubungannya dengan Harry Potter dalam buku cerita, tapi nama ini sungguh menjual," kata Ron Peled, pemandu wisata yang mengaku telah membawa puluhan orang ke kuburan itu.

Harry Potter di Israel diketahui seorang tentara kelahiran Birmingham, Inggris dan bergabung dengan militer Inggris pada 1938. Berdasarkan situs ketentaraan, ia datang ke Palestina, lalu terbunuh dalam pertempuran dengan kelompok bersenjata pada 1939. Saat itu, ia baru berusia 18 tahun.

Sementara, di nisannya ia ditulis berusia 19 tahun. Diduga ia memanipulasi umurnya agar bisa bergabung dalam ketentaraan.

Pegawai pmerintah setempat, kuburan itu mulai jadi perhatian sekitar lima tahun lalu. Dan Kota Ramle memasukkannya dalam daftar lokasi wisata sejak tahun lalu.

Suatu sore, sekelompok wisatawan dipimpin pemandu wisata menjelajahi makam yang terawat ini mencari kuburan 'Harry Potter'. Saat ditemukan di antara 4.500 nisan, para wisatawan akan berkerumun dan mengambil fotonya.

"Inis eperti wisata ziarah. jika tidak dikatakan Harry Potter dikubur di sini, tak ada yang mau ke mari," kata salah satu wisatawan, Josef Peretz .

sumber : VIVAnews

'Kalah' Melawan Al - Qur'an, Dr Jeffrey Lang Menerima Islam

awalnya, aku dapet berita ini dari temenku yang dia post di wall grup facebook kelas .
sumpah, merinding disko banget pas aku baca artikel berita ini yang dikutip dari repubilka.co.id .

check it out :)

REPUBLIKA.CO.ID-Sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional. “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, saat keduanya berjalan bersama anjing peliharaan mereka di pantai. Bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika.

Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, sebuah SMA Katholik, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinan akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun.

Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga akhirnya memeluk Islam.

Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi. Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu:

Kami berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu.

Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu.

Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela.

Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain. Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela. Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun.

Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang beberapa kali mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun. Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, dan karenanya ia tak peduli kendati mimpi itu berulang.

Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun tak lama kemudian menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey.

Kendati tak sedang berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai membuka-buka Alquran dan membacanya. Saat itu kepalanya dipenuhi berbagai prasangka.

“Anda tak bisa hanya membaca Alquran, tidak bisa jika Anda tidak menganggapnya serius. Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’,” ungkap Jeffrey.

Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah pergulatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.”

“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergulatan). Dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis (Alquran) mengetahui saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.

“Alquran selalu jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus aral yang telah saya bangun bertahun-tahun lalu dan menjawab pertanyaan saya.” Jeffrey mencoba melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”

Saat itu awal 1980-an dan tak banyak Muslim di kampusnya, University of San Fransisco. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement sebuah gereja di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat. Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu.

Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia mendapati dirinya mengucap syahadat. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba dan ia pun diundang untuk berpartisipasi. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah.

Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud.

“Saat saya melihat ke depan, saya bisa melihat Ghassan, di sisi kiri saya, di tengah-tengah, di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain merah.”

“Mimpi itu! Saya berteriak dalam hati. Mimpi itu, persis! Saya telah benar-benar melupakannya, dan sekarang saya tertegun dan takut. Apakah ini mimpi? Apakah saya akan terbangun? Saya mencoba fokus apa yang terjadi untuk memastikan apakah saya tidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. Ya Tuhan, ini nyata! Lalu rasa dingin itu hilang, berganti rasa hangat yang berasal dari dalam. Air mata saya bercucuran.”

Ucapan ayahnya sepuluh tahun silam terbukti. Ia kini berlutut, dan wajahnya menempel di lantai. Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT.

Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujar Jeffrey kini.

Jeffrey kini professor jurusan matematika University of Kansas dan memiliki tiga anak. Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS: Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam.

Ia memiliki tiga anak, dan bukan sebuah kejutan anaknya memiliki rasa keingintahuan yang sama. Jeffrey kini harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama yang dulu ia lontarkan kepada ayahnya. Suatu hari ia ditanya oleh anak perempuannya yang berusia delapan tahun, Jameelah, usai mereka shalat Ashar berjamaah. “Ayah, mengapa kita shalat?”

“Pertanyaannya mengejutkan saya. Tak sangka berasal dari anak usia delapan tahun. Saya tahu memang jawaban yang paling jelas, bahwa Muslim diwajibkan shalat. Tapi, saya tak ingin membuang kesempatan untuk berbagi pengalaman dan keuntungan dari shalat. Bagaimana pun, usai menyusun jawaban di kepala, saya memulai dengan, ‘Kita shalat karena Tuhan ingin kita melakukannya’,”

“Tapi kenapa, ayah, apa akibat dari shalat?” Jameela kembali bertanya. “Sulit menjelaskan kepada anak kecil, sayang. Suatu hari, jika kamu melakukan shalat lima waktu tiap hari, saya yakin kami akan mengerti, namun ayah akan coba yang terbaik untuk menjawan pertanyaan kamu.”


semoga hidup dan matiku dalam keadaan Islam yang beriman :)

Tuesday, March 1, 2011

Ciptakan Pembangkit Listrik Mini dalam 3 jam

Siapa bilang kegiatan siswa SMA saat ini hanya hurahura atau tawuran saja? Buktinya berkat penelitiannya, dua siswa SMA Negeri 8,Rizki Satriawan dan Muhammad Rizki,17,berhasil menciptakan pembangkit listrik bertenaga angin.

ENERGI yang ada saat ini semakin lama akan semakin menipis. Bahkan, beberapa puluh tahun cadangan energi di muka bumi diprediksi akan habis. Kata-kata tersebut terus terngiang di telinga Rizki Satriawan.Dia resah karena baginya tidak mungkin manusia modern dapat hidup tanpa bantuan energi. Berangkat keresahannya itu, Rizki Satriawan lalu mengajak teman sekelasnya yang kebetulan bernama sama dengannya, Muhammad Rizki, untuk mengembangkan energi alternatif. Berbekal buku-buku yang mereka baca di perpustakaan dan mencari informasi di internet, duo Rizki ini kemudian bersepakat untuk membuat pembangkit listrik.

“Kenapa kami memilih pembangkit listrik, awalnya karena listrik di tempat kami kerap mati. Yang kami dengar karena kekurangan pasokan.Lalu kami pikir kenapa tidak buat pembangkit listrik saja,”ujar Rizki Satriawan. Setelah bersepakat membuat pembangkit listrik, kedua siswa kelas XII IPA ini kemudian kembali harus memikirkan tenaga penggerak pembangkit listrik yang akan mereka buat. Sebagai siswa,mereka tentu tidak memiliki dana banyak untuk membuat pembangkit yang digerakkan dengan tenaga uap, air, apalagi nuklir. Mereka harus mencari tenaga penggerak yang tidak membutuhkan biaya sama sekali. “Sampai akhirnya kami sadar bahwa udara tidak ada yang memonopolinya, jadi bisa didapat dengan gratis dan mudah,”imbuh warga Jalan Sentosa Plaju ini.

Setelah ide didapat, mereka kemudian mulai merancang pembangkit listrik di laboratorium sekolahnya. Tahap awal mereka membuat baling-baling dari tripleks. Baling-baling ini kemudian dipasangi dinamo atau motor listrik. “Alat ini harus ditempatkan pada kawasan yang berangin deras sehingga baling-baling bisa berputar maksimal,” ujar Rizki yang mengaku hanya membutuhkan waktu 3 jam untuk membangun pembangkit mini ini. Energi yang dihasilkan alatnya ini kemudian disimpan dalam kapasitor. Energi yang tersimpan dalam kapasitor ini yang menyuplai tenaga untuk menggerakkan bel peringatan gempa yang mereka buat. “Kapasitor dibuat dari botol kaca atau tabung dengan tutup.

Kemudian tutup botol dipaku, sedangkan di dalam botolnya dilapisi alumunium foil seluruhnya, tapi yang di luar botol hanya setengah. Kemudian, paku tersebut diberi air yang dicampur garam, lalu ditutup rapat dan diisolasi,” ungkap Rizki. Sementara, bel peringatan gempa mereka buat dari bahan yang sederhana, yakni tripleks, pipa paralon,bel,dan bandul tembaga. Tripleks tersebut dipotong persegi panjang dan di atasnya dipasang sebuah bel. Lalu, dipasangkan pipa lurus sejajar dengan tripleks yang dipaku, kemudian kabel bel dipasangkan dengan sebuah bandul dari tembaga. “Ketika bandul bergerak,bandul tersebut akan menyentuh pipa yang dalamnya ada lapisan tembaga, ketika menyentuh, bel langsung otomatis berbunyi,” katanya.

Karya ilmiah ini pernah mereka ikutkan dalam lomba yang diselenggarakan di Universitas PGRI Palembang, Oktober 2010, dan berhasil meraih juara kedua. Rizki mengaku dirinya akan terus melakukan penelitian setelah lulus sekolah.Tak seperti saat ini, dia akan meneliti sesuatu yang berbeda,seperti cadangan energi masa depan yang murah meriah dan sederhana yang dapat digunakan semua orang. (a teddy kn)

dikutip dari Seputar Indonesia, Minggu, 27 Februari 2011
source:http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/384183/


duo Rizki itu anak Duassat (temen sekelasku)

Inilah Pertempuran


BISA mengalahkan tim sesama SMAN 8 merupakan kebanggaan tersendiri bagi Muhammad Rizki, Muhammad Saputra dan Putri Nilam Sari yang menjuarai Lomba Cepat Tepat MIPA Tingkat SMA se-Kota Palembang. 26-27 Februari 2011 di Kampus FK UMP.

“Walau sedikit gak tega sih, tapi mau gimana lagi karena inilah pertempuran,” ungkap Muhammad Rizki seraya berterimakasih kepada Ibu Ana Sintana SPd, guru pembimbingnya, Minggu (27/2).

Di babak final, Rizki Cs dari SMAN 8 dari regu C keluar sebagai juara pertama dengan perolehan nilai tertinggi 1300. Selain mendapatkan trofi tetap, trofi bergilir juga mendapatkan hadiah tabungan dari Bank Sumsel Babel Syariah sebanyak Rp 1,5 juta.

Sementara juara kedua SMA Patra Mandiri I mendapat trofi tetap dan tabungan Rp 900 ribu. Sedangkan SMAN 8 lainnya juara ketiga mendapat trofi tetap dan tabungan Rp 600 ribu.

Sang juara lomba dalam rangka Milad FK UMP ke-3 ini menilai even ini sangat baik untuk diikuti oleh pelajar yang membuat mereka tegang, bahagia dan seru.

“Alhamdulillah soal agama dan biologinya sangat membantu kami. Ada perasaan kami sangat bangga saat mengalahkan SMAN 6. Terima kasih FK UMP, it’s a cool game!,” ujar Putri Nilam Sari.

Dekan FK UMP Prof DR HM Arsyad didampingi Ketua Panitia Pelaksana Trisnawati SSi MKes memberikan apresiasi kepada 37 kelompok dari 10 SMA se-Kota Palembang yang menyemarakkan perlombaan ini.

“Kegiatan ini dalam rangka membina silaturahmi antar pelajar. Adanya piala bergilir ini berarti akan terus dilombakan di tahun mendatang karena lomba ini menjadi agenda rutin Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang,” seru Prof DR HM Arsyad.

Sebelumnya pada hari pembukaan Sabtu (26/2), Prof DR HM Arsyad mempersilahkan kepada para pelajar untuk jalan-jalan memperhatikan kampus FK UMP.

“Selain ikut cepat tepat, silahkan jalan-jalan. Kita memperkenalkan diri ke para siswa, terutama yang bercita-cita ingin jadi dokter. Bisa melihat fasilitas kampus,” imbuhnya. (fiz)

dikutip dari Sriwijaya Post, Senin, 28 Februari 2011


itu adalah sepenggal cerita pas lomba cepat tepat di FK Universitas Muhammadiyah Palembang, 26 - 27 Februari 2011 .
actually, ada yang salah di berita itu .
yang juara dua di lomba itu bukan anak Patra Mandiri, tapi anak SMA Negeri 8 grup A (klarifikasi :p)

ini adalah kali keduanya namaku ada di koran :)
hehe